atau cita-citanya terkabul menggambar salah satu sisi dari kedua matanya dengan kuas dan tinta. Bila harapan orang tersebut sudah tercapai, daruma akan menerima mata yang satunya lagi. Asal-usul boneka daruma adalah boneka tradisional Jepang yang disebut Okiagari Koboshi. Boneka okiagari-koboshi memiliki bagian dasar yang bundar dan berat sehingga boneka ini kembali bisa berdiri tegak
dengan bantuan beratnya sendiri setelah dimiringkan ke salah satu sisinya. Muka boneka okiagari-koboshi digambar seperti wajah Bodhidharma karena daruma yang selalu bisa berdiri tegak sesuai dengan cerita ketegaran Bodhidharma yang bermeditasi selama 9 tahun menghadap tembok di vihara Shaolin. Ada 2 permainan daruma yaitu : Daruma otoshi dan Darumasan ga koronda.
PS : Boneka Daruma mengajarkan kita untuk jangan pernah menyerah pada mimpi kita.
2. Teru teru bozu
Boneka yan satu ini tidak kalah uniknya, karena orang-orang jepang percaya jimat ini jika menggantungan boneka ini, hujan akan cerah. Teru teru bozu menjadi populer selama zaman Edo di antara masyarakat urban, biasanya anak-anak membuatnya untuk memohon agar cuaca menjadi baik sehari sebelumnya dan bernyanyi "Pendeta cuaca baik, cerahkan esok hari."
Secara tradisonal, jika cuaca berubah cerah, mereka akan digambari mata, sesajen berupa sake suci dituangkan pada mereka, kemudian dihanyutkan di sungai. Di masa kini, anak-anak membuat Teru teru bozu dari kertas tisu atau kapas dan benang lalu menggantungnya di jendela ketika mengharapkan hari yang cerah, seringkali sebelum hari piknik sekolah. Menggantungnya secara
terbalik berarti memohon agar hujan turun. Dan boneka ini terbuat dari kertas atau kain putih yang digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang. Dari segi bentuk dan pembuatannya, boneka tersebut mirip dengan boneka hantu seperti yang dibuat pada saat Hallowen. Dan lucunya Dalam bahasa jepang, Teru adalah kata kerja yang berarti "bersinar" atau "cerah", dan Bozu dapat berarti
bhiksu, atau dalam bahasa pergaulan masa kini dapat berarti "kepala botak"; kata itu juga merupakan istilah akrab untuk menyebut bocah lelaki.
3. Maneki Neko ( Kalau yang ini aku punya )
Kucing pajangan yang lucu ini memiliki beberapa keunikan, Pejagang ini percaya jika boneka ini membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Biasanya boneka ini di pajang di berbagai tempat, Maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kanan dipercaya dapat mendatangkan uang, sementara maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kiri dipercaya mendatangkan pembeli.
Maneki neko umumnya tidak dibuat dengan kedua belah kaki depan diangkat karena tidak ingin dikatakan sudah menyerah angkat tangan. Model pajangan ini biasanya adalah kucing belang tiga, kucing Japanese Bobtail dengan buntut pendek seperti buntut kelinci. Maneki neko juga dibuat dalam warna-warna lain seperti kuning emas atau hitam. Kucing yang menjadi model maneki neko konon
sedang mencuci muka dengan menggunakan sebelah kaki depan. Maneki neko merupakan contoh klasik untuk kitsch yang dapat dibuat dalam berbagai warna, aneka model, dan ragam hiasan. Pajangan ini juga dibuat sebagai bentuk berbagai macam keperluan sehari-hari, seperti: gantungan kunci, celengan, hingga pengharum ruangan. Bahan-bahan lain yang tidak umum untuk membuat
maneko neko adalah plastik atau kain perca. Dalam bahasa inggris, maneki neko disebut fortune cat (kucing keberuntungan) atau beckoning cat (kucing memanggil). Maneki neko dianggap sebagai benda pembawa keberuntungan. Orang Jepang banyak yang membelinya pada tahun baru. Maneki Neko sering dijual bersama kumade di kios pasar kaget yang berjualan di luar kuil Shinto. Selain itu,
toko pajangan yang menjual maneko neko dalam berbagai ukuran sering dijumpai di kota-kota dengan tradisi dagang yang kuat.
